Manfaat Digital Talking Book

Nama saya Jejen juanda, saat ini saya sedang kuliah di Universitas Pamulang, dan mengambil program bidang studi jurusan Teknik Informatika.

 Dalam keseharian saya, mendengarkan DTB (digital talking book) adalah salah satu cara untuk menambah wawasan, serta pengetahuan dan hiburan yang paling menarik, karena dengan Digital Talking Book ini, saya bisa mendengarkan novel atau sejarah, sekaligus dengan expresi pembacanya sehingga terasa lebih nyaman dibandingkan dengan saat screen reader yang membacanya. Sebelum bercerita lebih jauh terkait guna dan manfaat buku digital ini bagi pendidikan saya, sebelumnya saya  ingin berbagi terlebih dulu, betapa hebatnya kompatibilitas, fleksibilitas, dan tentu saja aksesibilitas dari buku digital produksi yayasan mitra netra ini.

Dari segi kompatibilitas, DTB cukup sederhana, karena khususnya buku-buku digital produksi Yayasan Mitra Netra ini sangat kompatibil dengan VCD dan DVD player. Yang mendukung file format audio mp3, atau dengan pemutar mp3 pada smartphone dan gadget kesayangan yang  biasa kita gunakan sehari-hari. Selain itu, tentunya buku digital ini juga kompatibel dengan DTB player seperti FSReader buatan Freedom Scientific untuk gadget PC atau laptop, Daisy2Go player buatan Nuance untuk gadget smartphone, dan tentu saja kompatibel juga dengan Victor Reader atau Hardware pemutar buku digital lainnya, yang hingga saat ini masih sangat mahal di indonesia.

Untuk fleksibilitasnya, buku-buku digital ini sangat nyaman dibawa kemanapun  kita pergi, karena Yayasan Mitra Netra memproduksinya dalam bentuk kepingan CD. Sehingga memungkinkan untuk kita memutarnya dalam VCD atau DVD player yang ada pada mobil atau laptop kita, meskipun sebenarnya kalau buku digital ini diputar menggunakan VCD dan DVD player kurang tepat, karena fitur navigasi yang ada pada buku digital ini akan tidak bisa digunakan apabila memutarnya dengan player tersebut. Tapi ini sudah jauh lebih fleksibel daripada kita membawa sebuah buku dalam cetakan braille yang jumlahnya bisa lebih dari satu jilid. Tapi, dengan membeli buku digital dari Yayasan Mitra Netra ini, kita dapat mengkopinya kedalam sebuah memori, untuk kemudian memutarnya dalam smartphone kita dengan Daisy2Go, atau dengan PlexTalk yang bentuknya lebih kecil dari victor Reader, karena besarnya yang hanya sebesar HP sehingga membuatnya seperti buku saku yang enak dibawa kemana-mana.

Aksesibilitas dari buku digital ini pun sangat banyak, salah satunya adalah navigasi baca buku yang seperti terdapat pada screen reader NVDA atau Jaws pada laptop dan PC. Karena buku digital ini sebenarnya bukan hanya sekedar file mp3 seperti CD mp3 lagu, yang kemudian dibuat dan diputar dalam mp3 player begitu saja. Walaupun dapat di putar dengan VCD atau DVD layaknya CD mp3 musik, Tapi sebenarnya buku ini dibuat dan di program seperti layaknya sebuah buku yang bisa di navigasi untuk membaca per paragrap, per bab, atau bahkan per kalimat. Dengan PlexTalk atau victor reader, dan software-software pembaca buku digital untuk gadget dan smartphone.

Bagi pendidikan dan pengetahuan saya, buku digital produksi Yayasan Mitra Netra ini sangat berguna dan bermanfaat. Karena sebagian besar dari seluruh buku-buku yang di produksi di Yayasan Mitra Netra ini adalah buku-buku pengetahuan umum, buku untukperguruan tinggi, serta buku-buku kurikulum pelajaran bagi siswa dari tingkat SD hingga SMA. Selain itu, ada juga buku-buku cerita dan novel untuk anak-anak teater, bagi mahasiswa di perguruan tinggi, dan sebagai hiburan bagi saya, atau teman-teman tunanetra baru yang sangat membutuhkan motifasi dan semangat untuk bisa hidup mandiri. Dalam kehidupan-nya sebagai seorang tunanetra.

Sejak tahun 2011 lalu, saya sudah aktif sebagai peminjam buku di Yayasan Mitra Netra cabang kota Bandung, dan sebagai pembeli buku dari Yayasan Mitra Netra Jakarta. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan sejarah, karena saat itu, saya mengambil pendidikan SMA jurusan IPS di sebuah SLB di kota tasikmalaya. Dan sering juga meminjam buku braille untuk belajar matematika. Selebihnya, saya lebih senang mendengarkan buku audio pengetahuan umum seperti buku pendidikan agama islam, atau tentang teknologi dan informasi untuk mengisi waktu luang setelah lulus SMA hingga saat ini saya kuliah di Universitas Pamulang.

Saat itu, saya paling sering mendengarkan buku-buku audio karya Muhammad Quraish Shihab, dan sangat menyukai buku-buku biografi para sahabat dan ulama-ulama pemuka agama islam. Apalagi pada saat itu, pembaca buku audio-nya juga saya rasa cukup fasih dalam membacakan hadits, ayat-ayat Alquran, dan kalimat-kalimat dalam bahasa arab. Sehingga terasa enak didengar dan pas dihati.

Untuk memenuhi keperluan kuliah saya di jurusan Teknik Informatika di Universitas Pamulang saat ini, telah ada beberapa buku dalam bentuk Digital Talking Book karya salah satu instruktur komputer Yayasan Mitra Netra, yaitu karya pak Sugiyo seperti buku audio Panduan Microsoft Word 2003, dan buku panduan microsoft dekstop windows 7 dengan screen reader NVDA. Dan ada juga buku manual bahasa pemrograman HTML (HyperText Markup Language) versi 4.1 cetakan dalam bahasa indonesia yang telah di produksi oleh Yayasan Mitra Netra kedalam bentuk Digital Talking Book.

Digital talking book ini sangat cocok bagi tunanetra dalam belajar, terutama di saat kita harus menghapal seperti macam-macam majas dalam bahasa indonesia, terjemahan alquran, dan teori-teori atau berbagai pendapat para ilmuan dan pakar saat membuat sebuah makalah.

Namun begitu, tidak berarti bahwa dengan adanya Digital Talking Book yang lebih fleksibel ini, kita sudah tidak perlu atau harus mengurangi penggunaan huruf braille untuk belajar, karena ada beberapa situasi dimana kita akan lebih fleksibel dengan menggunakan buku braille atau buku electronic (EBook). Misalnya saja, waktu kita belajar matematika dan membaca coding-coding dari salah satu bahasa pemrograman, bagi saya akan terasa lebih mudah dan nyaman apabila menggunakan buku dalam cetakan braille. Karena kebanyakan dari rumus-rumus matematika dan coding pada saat membuat program, ada ratusan, bahkan mungkin ribuan tanda baca yang cukup sulit digambarkan apabila hanya dibacakan didalam digital talking book. Oleh karena itu, saya merasa sangat membutuhkan buku dalam cetakan braille untuk matematika dan belajar suatu bahasa pemrograman, EBook untuk  membaca modul modul dan materi perkuliahan, dan sangat memerlukan digital talking book ini untuk membaca  cerita dan sejarah agar terdengar lebih mmaksimal.

Sejak tahun 2013 hingga saat ini, saya aktif sebagai anggota atau peminjam buku di perpustakaan Yayasan Mitra Netra Jakarta, dan lebih sering meminjam buku-buku audio pengetahuan umum dan cerita, serta aktif juga sebagai user Ebook online yang sering mendownload buku-buku novel di Yayasan Mitra Netra. Karena terkadang, ada beberapa buku yang saya inginkan ini tersedia hanya dalam bentuk EBook, braille, atau hanya dalam buku audio-nya saja.

Sebagai pencinta Teknologi, saya lebih sering membaca atau mencari tutorial, tips, dan trik teknologi. Oleh karena itu, digital talking book ini adalah salah  satu media yang paling nyaman bagi saya, karena saya bisa mempraktekan sebuah tutorial atau tips dan trik teknologi sambil mendengarkannya melalui media digital talking book ini.

Selain karena biayanya lebih murah, saya lebih sering meminjam dan membeli buku audio di Yayasan Mitra Netra, karena dengan buku audio ini, saya juga bisa mendengarkan intonasi pembacaan buku yang lebih tepat, terutama untuk cerita dan pelajaran bahasa indonesia. Dan mendengarkan buku-buku yang berisi terjemahan.

Uniknya, digital talking book di Yayasan Mitra Netra ini, di produksi dari buku-buku kiriman para tunanetra perorangan sebagai pendengar, pelajar, bahkan sebagai mahasiswa untuk melengkapi keperluannya dalam perkuliahan. Atau kiriman dari lembaga pendidikan seperti sekolah luar biasa dan yayasan lain, yang kemudian dibaca dan di rekam oleh para relawan yang datang ke Yayasan Mitra Netra untuk mengisi waktu luangnya dengan membacakan buku-buku tersebut dan merekamnya. lalu rekaman ini di edit serta di program oleh karyawan yang bekerja di Yayasan Mitra Netra kedalam format daisy, sehingga menjadi sebuah digital talking book, dan di produksi serta di distribusikan dalam bentuk CD.

Darisini pun, sebenarnya saya sudah banyak mendapatkan pelajaran. Karena, dalam produksinya ini, digital talking book telah mengajarkan bagaimana untuk menjadi seorang relawan, yang berjasa karena telah merelakan waktu luangnya untuk membacakan sebuah buku. Yang karenanya buku ini pun jadi lebih berguna dan bermanfaat bagi tunanetra di kemudian hari.

Manfaat lain yang bisa saya dapatkan hanya dari buku audio ini, adalah  karena buku audio merupakan satu-satu-nya media yang bisa membantu saya untuk melatih intonasi dengan benar sebagai pembaca buku yang baik, dan untuk melatih saya dalam bercerita kepada orang lain. Supaya terdengar menarik dan lebih tepat dalam membawakan-nya. 

Komentar